Penggunaan analgesik, antibiotik dan anestesi lokal pada praktik kedokteran gigi merupakan hal yang sangat umum digunakan. Beberapa pasien seringkali datang untuk perawatan gigi dengan riwayat konsumsi obat akibat kondisi sistemik. Penting untuk Sobat Mindy memahami interaksi obat-obat tersebut. Yuk, kita bahas!
NSAID dan Lithium
NSAIDs merupakan analgesik yang sering digunakan untuk menangani nyeri odontogenik dan pasca tindakan. NSAIDs dapat menyebabkan efek samping yang serius ketika berinteraksi dengan obat-obatan tertentu. Salah satunya adalah Lithium.
Lithium adalah obat utama pada gangguan bipolar yang berguna untuk penstabil mood. NSAIDs jika berinteraksi dengan lithium dapat menyebabkan terhambatnya ekskresi lithium melalui ginjal, sehingga kadar lithium dalam darah akan meningkat dan menyebabkan toksisitas.
Efek samping :
- Mual dan muntah
- Diare
- Gangguan ginjal
- Penurunan kesadaran
- Gangguan saraf
- Gangguan bicara
- kebingungan
- hipersaliva
Alternatif penggunaan obat analgesik selain NSAIDs adalah paracetamol (acetaminophen) dan opioid. Paracetamol tidak berbahaya jika berinteraksi dengan lithium, namun pada opioid dapat meningkatkan risiko sindrom serotoninergik.
Metronidazole atau Fluconazole dan Warfarin
Metronidazole merupakan obat paling efektif dalam melawan bakteri anaerob obligat yang berhubungan dengan penyakit periodontal, abses periapikal, dan peri-implantitis. Metronidazole sering dikombinasikan dengan penisilin atau ciprofloxacin. Sedangkan, fluconazole adalah agen anti jamur yang efektif dalam pengobatan candidiasis.
Warfarin adalah antikoagulan yang sering diresepkan untuk mencegah infark miokard, pulmonary embolisms dan stroke oklusif pada pasien berisiko tinggi, seperti mereka yang menderita fibrilasi atrium, penggantian katup jantung, dan trombosis vena dalam. Metronidazole dan fluconazole merupakan inhibitor enzim CYP2C9, yaitu jalur utama metabolisme warfarin. Inhibitor ini mengakibatkan peningkatan kadar warfarin dalam darah dan efek antikoagulasi yang berlebih.
Efek samping :
- Memar
- Mimisan
- Perdarahan berkepanjangan dan spontan
- perdarahan saluran pencernaan
- Hemoragik serebral
- Hemoragik intraokular
Alternatif selain metronidazole dan fluconazole adalah clindamycin yang memiliki risiko lebih rendah.
Epinephrine dan Propanolol
Epinephrine merupakan vasokonstriktor yang paling banyak digunakan dengan anestesi lokal dalam kedokteran gigi. Epinephrine berfungsi untuk memperpanjang durasi anestesi dan membantu hemostasis. Kombinasi epinephrine dengan beta-bloker non selektif seperti propanolol, dapat menyebabkan efek samping yang serius.
Beta-bloker banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi, angina, aritmia jantung, dan migrain. Propranolol memblokir efek vasodilatasi beta-2 dari epinephrine, sehingga efek vasokonstriksi alfa-1 tetap berfungsi tanpa hambatan, yang menyebabkan hipertensi dengan refleks bradikardi.
Efek samping :
- Hipertensi
- Bradikardi
- Serangan jantung
- Masalah pernapasan
- Kecemasan
Alternatif penggunaan epinephrine pada pasien yang mengkonsumsi beta-bloker non selektif atau propranolol yaitu menggunakan dosis epinephrine paling rendah (tidak lebih dari 0,034mg) dan monitor pasien secara berkala.
Jangan lupa download aplikasi UMEDS di App Store & Playstore buat akses berbagai fitur belajar seru seputar kedokteran gigi!
Sumber:
Madej, B., Chan, L., & Mendoza T. 2024. DrBicuspid.com. https://www.drbicuspid.com/dental-specialties/orofacial-pain/anesthesia/article/15705007/epinephrines-risky-relationship-with-beta-blockers.
Hersh, E. V., & Moore, P. A. 2015. Three serious drug interactions that every dentist should know about. Compendium, 36(6), 739-744.
Nunes, R. P. 2018. Lithium interactions with non-steroidal anti-inflammatory drugs and diuretics–A review. Archives of Clinical Psychiatry (São Paulo), 45, 38-40.

