Penyakit Gigi dan Mulut: Klasifikasi, Gejala, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Penyakit Gigi dan Mulut: Klasifikasi, Gejala, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mindy
Published on 24 Mei 2026

Penyakit Gigi dan Mulut: Klasifikasi, Gejala, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu kelompok penyakit dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa mehr dari 90% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman komprehensif tentang klasifikasi, etiologi,manifestasi klinis, dan penatalaksanaan berbagai penyakit gigi dan mulut merupakan kompetensi inti yang harus dikuasai untuk menghadapi UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.

Artikel ini akan membahas secara sistematis berbagai penyakit gigi dan mulut berdasarkan lokasi anatomis dan jaringan yang terlibat, lengkap dengan kode ICD-10, pendekatan diagnostik, dan prinsip penatalaksanaan yang sesuai standar profesi.

Klasifikasi Penyakit Gigi dan Mulut Berdasarkan Lokasi Anatomis

Penyakit gigi dan mulut dapat diklasifikasikan berdasarkan jaringan atau organ yang terlibat. Klasifikasi ini penting untuk memahami etiologi, patogenesis, dan pendekatan terapi yang tepat.

Penyakit Jaringan Keras Gigi

Penyakit jaringan keras gigi terutama meliputi gangguan pada email (enamel), dentin, dan sementum.

Karies Gigi (K02)

Karies gigi merupakan penyakit destruktif jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas bakteri plak dentist pada permukaan gigi. Proses demineralisasi email dan dentin terjadi akibat asam dihasilkan dari metabolisme karbohidrat oleh bakteri kariogenik seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus.

Klasifikasi Karies berdasarkan ICD-10:

  • K02.0 — Karies inisial (white spot lesion)
  • K02.1 — Karies email
  • K02.2 — Karies dentin
  • K02.3 — Karies dentin yang terproteksi
  • K02.4 — Odontoklasia
  • K02.5 — Karies rampan (Early Childhood Caries)
  • K02.6 — Karies pada gigi tetap dengan akar yang terbuka
  • K02.7 — Dental caries withoutchronologically defined severity
  • K02.8 — Karies lain-lain
  • K02.9 — Karies gigi, tidak disebutkan

Manifestasi klinis karies bervariasi tergantung pada stadiumnya. Karies inisial muncul sebagai bercak putih kapur pada permukaan email yang belum mengalami cavitasi.Pada stadium lanjut, terbentuk kavitas yang progresif mempengaruhi email, dentin, dan mencapai pulpa.

Non-Carious Cervical Lesions (NCCL)

NCCL adalah kerusakan jaringan keras gigi yang terjadi di area servikal gigi, bukan disebabkan oleh proses karies. Jenis NCCL meliputi:

  • Abfraksi — hilangnya struktur gigi akibat beban oklusal yang berlebihan pada area cervical
  • Abrasi — keausan gigi akibat gesekan bahan abrasif (pasty gigi, makanan)
  • Erosi — hilangnya jaringan gigi akibat proses kimiawi non-bakteri (asam diet, refluks asam lambung, muntah)
  • Korosi — kerusakan akibat proses elektrokimia pada bahan restorasi gigi

Pemahaman perbedaan NCCL dengan karies cervical penting dalam Diagnosis Diferensial pada pasien dengan lesi servikal.

Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal

Pulpitis (K04)

Pulpitis adalah inflamasi pada jaringan pulpa gigi. Berdasarkan reversibilitasnya, pulpitis diklasifikasikan menjadi:

1. Pulpitis Reversibel

Inflamasi pulpa yang ringan dengan mempertahankan vitalitas pulpa. Gejala: nyeri singkat (1-2 detik) sebagai respons terhadap stimulus termal atau kimiawi, menghilang segera setelah stimulus dihilangkan. Prognosis baik dengan perawatan konservatif (pulp capping langsung/tidak langsung).

2. Pulpitis Irreversibel

Inflamasi pulpa yang tidak dapat pulih. Gejala: nyeri spontan, nyeri berkepanjangan (lebih dari 5 detik) setelah stimulus dihilangkan. Dapat bersifat simptomatik atau asimptomatik nekrosis pulpa.

Klasifikasi ICD-10:

  • K04.0 — Pulpitis
  • K04.1 — Nekrosis pulpa
  • K04.2 — Degenerasi pulpa
  • K04.3 — Formación dentin abnormal pada pulpa
  • K04.4 — Periodontitis apical akut
  • K04.5 — Periodontitis apical kronis (granuloma apical)
  • K04.6 — Abses periapikal dengan drainage
  • K04.7 — Radikulasi kista
  • K04.8 — Hypercementosis

Abses Gigi

Abses gigi merupakan komplikasi infeksi odontogenik yang paling sering dijumpai dalam praktik kedokteran gigi. Berdasarkan lokasi, abses gigi diklasifikasikan menjadi:

  • Abses Periapikal (K04.7) — infeksi berasal dari pulpa necrotic, menyebar ke jaringan periapikal
  • Abses Periodontal (K05.2) — infeksi berasal dari kantong periodontal
  • Abses Perikoronal — terkait dengan impaksi gigi molar ketiga (pericoronitis)

Manifestasi klinis: nyeri berdenyut, bengkak pada wajah atau gusi, gingiva merah dan bengkak, kadang disertai demam dan pembesaran kelenjar getah bening regional.

Penyakit Jaringan Periodontal

Penyakit periodontal adalah kelompok penyakit yang menyerang jaringan penyangga gigi, yaitu gingiva, sementum, ligamen periodontal, dan tulang alveolar.

Gingivitis (K05.0)

Gingivitis adalah inflamasi reversible pada gingiva yang disebabkan oleh akumulasi plak bakteri. Gingivitis merupakan bentuk paling ringan dari penyakit periodontal dan merupakan topik klasik dalam UKMP2DG karena sering muncul dalam soal klinis.

Tanda klinis gingivitis:

  • Perubahan warna gingiva dari pink coral menjadi merah terang
  • Edema gingiva (pembengkakan)
  • Loss of stippling (kehilangan stippling)
  • Perdarahan saat probing
  • Tidak ada perubahan pada nivel tulang alveolar

Gingivitis dibagi berdasarkan manifestasi klinis:

  • K05.0 — Gingivitis akut (sering pada anak-anak)
  • K05.1 — Gingivitis kronis
  • K05.2 — Gingivitis ulceromembranosa (ANUG — Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis)

Periodontitis (K05.2 / K05.3)

Periodontitis adalah inflamasi irreversible pada jaringan periodontal yang menyebabkan kerusakan tulang alveolar dan pembentukan kantong periodontal. Perbedaan utama dengan gingivitis adalah adanya kehilangan perlekatan (attachment loss) dan kerusakan tulang alveolar yang dapat dideteksi secara radiograf.

Klasifikasi berdasarkan stadium (AAP 2017):

  • Stadium I — Periodontitis stage I (initial)
  • Stadium II — Periodontitis stage II (moderate)
  • Stadium III — Periodontitis stage III (severe with potential for tooth loss)
  • Stadium IV — Periodontitis stage IV (severe with extensive tooth loss)

Indikator kerusakan jaringan periodontal: probing depth, clinical attachment level (CAL), radiographic bone loss, tooth mobility, furcation involvement.

Penyakit Mukosa Oral

Stomatitis Aftosa (K12.0)

Stomatitis aftosa (Recurrent Aphthous Stomatitis/RAS) adalah lesi ulcerative pada mukosa oral yang bersifat rekuren. Ditandai dengan lesi ulcerative bulat/oval dengan tepi eritematosa dan dasar keputihan.

Klasifikasi:

  • Minor (MiAU) — lesi diameter kurang dari 10mm, sembuh dalam 10-14 hari tanpa jaringan parut
  • Major (MjAU) — lesi diameter lebih dari 10mm, sembuh dalam beberapa minggu dengan jaringan parut
  • Herpetiform (HU) — multiple lesi kecil 1-3mm yang confluen

Diagnosis Diferensial penting: lesi herpes simpleks (vesikel awal, multipel), trauma (riwayat laserasi), lesi autoimun (lupus eritematosus diskoid), keganasan (ulkus yang tidak sembuh lebih dari 2 minggu).

Kandidiasis Oral (B37.0)

Kandidiasis oral adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida albicans dan spesies Candida lainnya. Faktor predisposisi: immunosupresi, penggunaan antibiotik spektrum luas, diabetes mellitus, penggunaan steroid inhalasi, denture wearer.

Bentuk klinis kandidiasis oral:

  • Pseudomembranous candidiasis (thrush) — bercak putih yang dapat dihapus dengan kassa, mengekspos dasar eritematosa
  • Erythematous candidiasis — area merah pada palate atau dorsum lidah
  • Angular cheilitis — peradangan pada sudut mulut
  • Chronic hyperplastic candidiasis — plak putih yang tidak dapat dihapus (pra-malignant)

Lesi Prakanker dan Keganasan Oral

Pemahaman tentang lesi prakanker merupakan kompetensi penting bagi mahasiswa kedokteran gigi. Lesi prakanker utama:

  • Leukoplakia — bercak putih yang tidak dapat dihapus, tidak dapat diklasifikasikan sebagai penyakit lain
  • Eritroplakia — bercak merah dengan permukaan halus atau granular
  • Oral Submucous Fibrosis (OSF) — fibrosis submukosa rongga mulut terkait konsumsi sirih pinang
  • Lichen planus oral — lesi white striae (Wickham striae) bilateral pada mukosa oral

Prinsip deteksi dini: setiap lesi yang tidak sembuh dalam 2 minggu harus dirujuk untuk biopsi. Kanker rongga mulut paling sering pada lantai mulut, lidah, dan vestibulum.

Gangguan Kelenjar Saliva dan Xerostomia

Xerostomia (K11.7)

Xerostomia adalah kondisi keringnya rongga mulut akibat penurunan aliran saliva. Penyebab tersering: efek samping obat-obatan (antidepresan, antihypertensi), sindrom Sjogren, radioterapi kepala-leher, dehidrasi.

Manifestasi klinis:

  • Rongga mulut kering dan lengket
  • Bibir pecah-pecah
  • Kesulitan bicara dan menelan
  • Hyposalivation (aliran saliva kurang dari 0.3 mL/min)
  • Increase caries rate (karies rampan)
  • Halitosis

Penatalaksanaan: stimulasi saliva (gum chewing, saliva substitute), pelembab mulut, kolaborasi dengan dokter untuk penyesuaian obat, fluoride topical untuk preven si karies.

Sialadenitis

Sialadenitis adalah inflamasi kelenjar saliva yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri (sialadenitis bakterial akut), virus (sialadenitis viral — contoh: parotitis/epidemic mumps), atau kondisi autoimun.

Manifestasi klinis:

  • Nyeri dan bengkak pada kelenjar saliva yang terlibat
  • Peningkatan temperature lokal
  • discharge purulent dari ductus (pada sialadenitis bakterial)
  • Demam dan malaise (pada infeksi akut)

Diagnostik Penyakit Gigi dan Mulut

Pendekatan diagnostik pada penyakit gigi dan mulut memerlukan anamnesis yang sistematis, pemeriksaan klinis yang teliti, dan pemeriksaan penunjang yang tepat.

Anamnesis

Anamnesis merupakan tahap awal dan krusial dalam proses diagnostik. Informasi yang harus dikumpulkan:

  • Keluhan utama — nyeri, bengkak, gangguan fungsi
  • Riwayat penyakit sekarang — onset, lokasi, karakteristik nyeri, faktor pencetus dan pereda
  • Riwayat penyakit dahulu — penyakit sistemik, operasi, rawat inap
  • Riwayat pengobatan — obat-obatan yang sedang dikonsumsi, alergi obat
  • Riwayat dental — pengalaman perawatan gigi sebelumnya
  • Kebiasaan sosial — merokok, konsumsi alkohol, diet, oral hygiene

Untuk pasien dengan kondisi medis kompromis (diabetes, jantung, immunocompromised), konsultasi dengan dokter yang merawat diperlukan sebelum melakukan perawatan gigi.

Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan klinis meliputi:

  • Pemeriksaan ekstraksonormal — wajah, kulit, kelenjar getah bening
  • Pemeriksaan intraoral — jaringan keras dan lunak rongga mulut
  • Pemeriksaan periodontal — PI, OHI-S, pocket depth, CAL, furcation involvement
  • Pemeriksaan gigi individual — caries, restorasi, fraktur, mobilitas
  • Pemeriksaan oklusi — relasi Gigi, premature contact, guided occlusion

Pemeriksaan Penunjang

  • Radiografi intraoral — periapikal, bitewing, occlusal
  • Radiografi ekstraoral — panoramik, sefalometri, CBCT
  • Test vitalitas pulp — cold test, electric pulp testing
  • Pemeriksaan laboratorium — darah lengkap, glucose, serologi (sesuai indikasi)
  • Biopsi — untuk lesi yang mencurigakan ganas atau lesi不明

Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut

Pencegahan merupakan aspek fundamental dalam kesehatan gigi dan mulut. Konsep pencegahan penyakit gigi dan mulut mengikuti pendekatan tiga tingkat:

Pencegahan Primer

Tindakan mencegah onset penyakit sebelum terjadi:

  • Penyuluhan kesehatan gigi — teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan floss, pilihan pasta gigi berfluoride
  • Diet counseling — pembatasan makanan tinggi gula, menghindari ngemil频繁
  • Topikal aplikasi fluoride — varnish fluoride 2x per tahun
  • Fissure sealant — untuk pit dan fisur gigi permanen baru erupt

Pencegahan Sekunder

Tindakan deteksi dini dan intervensi untuk menghambat progresi penyakit:

  • Skrining berkala — pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan
  • Pemeriksaan radiografi — bitewing untuk deteksi karies interproximal
  • Pemeriksaan periodontal — early detection of pocket formation
  • Deteksi dini lesi prakanker — oral cancer screening

Pencegahan Tersier

Tindakan untuk meminimalkan disabilitas dan memulihkan fungsi:

  • Restorasi gigi yang rusak — penambalan, inlay, onlay, mahkota
  • Perawatan saluran akar — untuk mempertahankan gigi dengan pulpa yang irreversibly damaged
  • Prostodonsia — pembuatan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang
  • Periodontal therapy — scaling dan root planing, bedah periodontal

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penyakit Gigi dan Mulut

Apa saja penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai?

Penyakit gigi dan mulut paling sering mencakup karies gigi (gigi berlubang), penyakit periodontal (gingivitis dan periodontitis), dan stomatitis aftosa. Prevalensinya sangat tinggi di Indonesia dengan mehr dari 90% penduduk mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.

Bagaimana cara mencegah penyakit gigi dan mulut?

Pencegahan penyakit gigi dan mulut meliputi menyikat gigi minimal 2x sehari dengan pasta gigi berfluoride, penggunaan benang gigi daily, diet rendah gula, kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan, aplikasi fluoride topikal, dan fissure sealant untuk anak-anak.

Apakah penyakit gigi dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan?

Ya, penyakit gigi dan mulut memiliki hubungan erat dengan berbagai penyakit sistemik. Periodontitis dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dan komplikasi kehamilan. Infeksi odontogenik dapat menyebar dan menyebabkan selulitis, abses fascial, atau bahkan sepsis.

Kapan harus segera ke dokter gigi?

Kondisi darurat yang memerlukan kunjungan segera ke dokter gigi mencakup nyeri gigi hebat yang tidak mereda dengan obat nyeri, bengkak wajah atau leher yang cepat membesar, perdarahan yang tidak berhenti, trauma dentoalveolar (fraktur atau avulsi gigi), dan tanda-tanda infeksi sistemik (demam tinggi, malaise).

Apakah gigi berlubang selalu harus ditambal?

Karies inisial (K02.0 white spot lesion) dapat ditangani dengan remineralisasi menggunakan fluoride tanpa restorasi. Namun, karies yang sudah membentuk kavitas memerlukan restorasi untuk menghentikan progresi dan mengembalikan fungsi gigi. Keputusan penambalan bergantung pada kedalaman lesi, aktivitas karies, dan kondisi pasien.

Kesimpulan

Penguasaan materi penyakit gigi dan mulut merupakan fondasi penting bagi mahasiswa kedokteran gigi. Pemahaman klasifikasi berdasarkan lokasi anatomis, kode ICD-10, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, dan prinsip penatalaksanaan akan sangat membantu dalam menghadapi soal-soal UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.

Sebagai calon dokter gigi, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan clinical reasoning untuk melakukan diagnosis diferensial antara berbagai penyakit gigi dan mulut. Pemeriksaan yang sistematis, anamnesis yang lengkap, dan pemanfaatan pemeriksaan penunjang secara tepat akan meningkatkan akurasi diagnostik dan quality of care.

Selain aspek kuratif, mahasiswa juga perlu memahami pentingnya pendekatan preventif dalam kedokteran gigi. Preventif dentistry merupakan aspek yang semakin menekankan dalam kurikulum kedokteran gigi modern dan merupakan komponen esensial dari praktik kedokteran gigi berbasis komunitas.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds