Maloklusi Gigi: Penyebab, Klasifikasi, Gejala, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi
Maloklusi Gigi merupakan salah satu kelainan dentofasial paling umum yang ditangani dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari. Istilah ini merujuk pada ketidaksesuaian letak gigi atas dan bawah ketika rahang menutup, yang dapat berupa malaposisi gigi individual, ketidakseimbangan hubungan rahang, atau kombinasi keduanya. Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman mendalam tentang maloklusi menjadi landasan penting dalam menghadapi stasiun UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.
Definisi Maloklusi Gigi
Maloklusi secara harfiah berarti "gigitan yang tidak tepat" (mal = buruk, occlusion = gigitan). Berdasarkan definisi yang digunakan dalam kurikulum kedokteran gigi Indonesia, maloklusi adalah kelainan perkembangan atau pertumbuhan maxilla dan mandibula yang mengakibatkan gangguan hubungan arkus gigi, baik dalam dimensi sagital, transversal, maupun vertikal. WHO mengkategorikan maloklusi dalam ICD-10 kode K07 (kelainan dentofasial termasuk maloklusi).
Maloklusi berbeda dari oklusi normal yang memenuhi enam kriteria Andrew Key: kontak gigi pertama molar maksilaris dengan gigi molar mandibularis, inklinasi gigi anterior yang tepat, tanpa rotasi atau overlapping gigi, tanpa ruang antar gigi (.spacing) yang abnormal, kurva Spee yang datar, dan midline yang berimpit.
Penyebab Maloklusi Gigi
Penyebab maloklusi dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama yang sering diujikan dalam UKMP2DG:
2.1 Faktor Genetik (Herediter)
Faktor遗传 merupakan penyebab tersering maloklusi. Contoh klasik 包括 ukuran rahang yang tidak proporsional dengan besar gigi, di mana gigi-gigi individu memiliki ukuran normal tetapi rahang terlalu kecil untuk menampungnya. Ketidaksesuaian antara ukuran gigi dan lebar rahang (tooth size arch length discrepancy/TSALD) merupakan masalah herediter yang paling sering dijumpai.
2.2 Faktor Lokal (Lingkungan)
- Karies dini pada gigi sulung yang menyebabkan kehilangan ruang molar secara prematur
- Kebiasaan buruk seperti thumb sucking (mengisap jempol), mouth breathing (pernapasan mulut), dan tongue thrusting (dorongan lidah)
- Cedera traumatik pada rahang atau gigi anterior
- Erupsi gigi abnormal akibat perdensi, posisi germ Gigi yang tidak normal
- Rasa ingin tahu terhadap Gigi desidui yang tanggal lebih awal
2.3 Faktor Sistemik
- Gangguan endokrin (hipotiroidisme, akromegali)
- Gangguan nutrisi (defisiensi vitamin D, rakitis)
- Penyakit pada fase pertumbuhan (asma, alergi saluran napas atas kronis)
- Sindrom genetik (Down syndrome, Crouzon syndrome, Pierre Robin sequence)
Klasifikasi Maloklusi Gigi
Sistem klasifikasi maloklusi yang paling banyak digunakan dalam pendidikan kedokteran gigi dan ujian UKMP2DG adalah klasifikasi Angle. Selain itu, mahasiswa juga perlu mengetahui klasifikasi berdasarkan hubungan molar dan incisal.
3.1 Klasifikasi Angle (Berdasarkan Posisi Molar Pertama)
Sistem klasifikasi ini ditetapkan oleh Edward H. Angle pada tahun 1899 dan masih menjadi standar hingga saat ini:
| Kelas I (Neutrocclusion) | Hubungan molar tepat, dengan tonjol mesio-bukal gigi molar maksila pertama berhadapan dengan alur tonjol mesio-bukal gigi molar mandibularis pertama. Oklusi normal. Maloklusi terjadi karena posisi gigi individual yang tidak teratur (berputar, extruded, atau intruded) meskipun hubungan basal baik. |
| Kelas II (Distocclusion) | Hubungan molar di mana tonjol mesio-bukal gigi molar maksila pertama berposisi anterior terhadap alur tonjol mesio-bukal molar mandibularis pertama. Biasanya disertai retrognatik mandibula (mandible retruded). Subklasifikasi: Division 1 (overjet meningkat, insisal maksila protrusif); Division 2 (insisal maksila retrusif, overjet sedikit, gigitan dalam/Divide bite). |
| Klas III (Mesiocclusion) | Hubungan molar di mana tonjol mesio-bukal gigi molar maksila pertama berposisi posterior terhadap alur tonjol mesio-bukal molar mandibularis pertama. Biasanya disertai prognatik mandibula (mandible protruded). |
3.2 Klasifikasi Berdasarkan Overjet dan Overbite
- Normal bite: Overjet 2-4 mm, overbite 2-4 mm (close bite normal)
- Open bite: Tidak ada kontak insisal vertikal, terdapat celah horizontal antara gigi anterior atas dan bawah
- Deep bite: Overbite berlebihan (>4 mm), insisal mandibularis menghubungi gingiva atau palatum
- Crossbite: Hubungan transversal gigi bawah berada lebih lateral dari gigi atas (crossbite anterior atau posterior)
- Edge-to-edge: Kontak insisal gigi atas dan bawah pada posisi tepi-to-tepi
3.3 Indeks Masalah Ortodontik (IOTN)
Indeks Ortodontik Treatment Need (IOTN) digunakan untuk menilai tingkat kebutuhan perawatan ortodontik berdasarkan dua komponen: DBH (Dental Health Component) dan AC (Aesthetic Component). DBH mengklasifikasikan maloklusi dari Grade 1 (tidak perlu perawatan) hingga Grade 5 (perawatan sangat diperlukan). Sistem ini penting untuk menentukan prioritas perawatan ortodontik dalam layanan kesehatan gigi nasional.
Gejala dan Tanda Maloklusi
Manifestasi klinis maloklusi bervariasi tergantung pada tipe dan keparahan. Secara umum dapat dibagi menjadi:
4.1 Gejala Fungsional
- Gangguan pengunyahan dan efisiensi makan
- Gangguan fonasi (pelafalan kata, terutama bunyi s, sh, t, n)
- Gangguan pernafasan (mouth breathing pada maloklusi Kelas II)
- Nyeri pada sendi temporomandibular (TMD) pada kasus berat
- Trauma oklusal (gigi tidak berfungsi secara merata)
4.2 Gejala Estetik
- Protrusi gigi anterior (tongol/gigi凸)
- Facial imbalance (profil wajah cembung pada Kelas II, cekung pada Kelas III)
- Gigi拥挤 (crowding) atau spacing berlebihan
- Gigi tidak beraturan (rotated, extruded, intruded)
4.3 Gejala Periodontal
- Resesi gingiva akibat trauma dari oklusi
- Kehilangan tulang alveolar pada area dengan beban oklusal berlebihan
- Abfraction (lesi cervikal non-karies) akibat beban berlebihan
Diagnosis Maloklusi Gigi
Diagnosis maloklusi yang komprehensif memerlukan pendekatan sistematis yang mencakup anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan diagnostik penunjang.
5.1 Anamnesis
Pada anamnesis, kumpulkan informasi tentang: keluhan utama pasien terkait estetik atau fungsional, riwayat kesehatan umum dan dental, riwayat kebiasaan oral (thumb sucking, tongue thrust, mouth breathing), riwayat trauma, dan riwayat perawatan ortodontik sebelumnya.
5.2 Pemeriksaan Klinis
- Pemeriksaan ekstr oral: Facial form (mesoprosopic, brachyprosopic, leptoprosopic), simetri wajah, profil wajah (convex, straight, concave), eksposur Gigi saat tersenyum, dan fungsi sendi temporomandibular.
- Pemeriksaan intramural: Kebersihan mulut, kondisi gingiva, vitalitas Gigi, dan hubungan Gigi dalam tiga dimensi.
- Analisis model studi: Diperoleh dari cetakan Gigi yang kemudian diukur untuk menentukan TSALD, kurva Spee, dan lebar gigi.
5.3 Pemeriksaan Radiografis
- Panoramik radiograph: Untuk mengevaluasi adanya gigi impaksi (terutama gigi bungsu), kondisi tulang alveolar, dan simetri kondilar.
- Lateral cephalometric radiograph: Untuk analisis skelet dan dental (SNA, SNB, ANB, Wits appraisal, IMPA, FMIA, inter-incisal angle).
- PA (Postero-Anterior) radiograph: Untuk menilai asimetri wajah dan lebar maksila.
Penatalaksanaan Maloklusi Gigi
Penatalaksanaan maloklusi disesuaikan dengan tipe, keparahan, usia pasien, dan etiologi yang mendasari. Secara garis besar dapat dibagi menjadi observasi, intervensi early mixed dentition, dan perawatan ortodontik aktif.
6.1 Prinsip Perawatan Berdasarkan Etiologi
| Herediter (diskordansi ukuran gigi-rahasia) | Perawatan ortodontik dengan ekstraksi (biasanya premolar pertama) untuk merelief crowding, atau expansion rahang pada kasus ringkas. |
| Kebiasaan buruk | Myfunctional appliance (habit breaker) untuk menghentikan thumb sucking, terapi了我的 (berbicara dengan benar) untuk tongue thrust. |
| Kehilangan ruang molar premature | Space maintainer (distal shoe, lingual arch, band and loop) untuk menjaga panjang arkus Gigi. |
| Transversal masalah (crossbite) | Rapid maxillary expansion (RME) atau slow maxillary expansion pada pasien yang masih dalam fase pertumbuhan. |
6.2 Modalitas Perawatan
a) Observasi dan intervensi early: Dilakukan pada fase mixed dentition awal. Memantau pertumbuhan dan perkembangan erupsi gigi. Penggunaan alat miofungsional dapat membantu mengkoreksi kebiasaan buruk.
b) Perawatan Ortodontik Crossover: Menggunakan fixed appliance (bracket dan archwire) untuk merelief crowding, mengkoreksi inklinasi Gigi, dan menyelesaikan masalah oklusi. Perlu diingat bahwa untuk kondisi tertentu, ekstraksi gigi premolar diperlukan.
c) Perawatan Ortodontik dengan Alat Lepasan: Dapat digunakan untuk kasus ringan hingga sedang, terutama pada pasien yang tidak kooperatif dengan fixed appliance.
d) Perawatan Bedah Ortognatik: Diindikasikan untuk maloklusi skeletalklasse II dan kelas III dengan keparahan berat di mana pertumbuhan telah berhenti. Kombinasi ortodontik-bedah memberikan hasil terbaik untuk kasus dengan komponen skeletalkelainan yang signifikan.
Maloklusi Gigi dan Relevansinya dalam UKMP2DG
Maloklusi merupakan topik yang konsisten muncul dalam stasiun UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG. Mahasiswa perlu mempersiapkan:
- Klasifikasi Angle dan kemampuan mengidentifikasi tipe maloklusi dari model studi atau foto
- Analisis ruang (space analysis) untuk menentukan apakah ada discrepancy antara ukuran Gigi dan panjang arkus
- Perencanaan perawatan yang tepat berdasarkan etiologi dan keparahan
- Pemahaman tentang Indikasi ekstraksi premolar dalam perawatan ortodontik
Dalam pemeriksaan klinis, mahasiswa harus mampu mendemonstrasikan cara menentukan hubungan molar (kelas I, II, atau III), mengukur overjet dan overbite, mengidentifikasi crowding atau spacing, dan merencanakan tatalaksana yang sesuai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa penyebab utama maloklusi gigi?
Maloklusi disebabkan oleh kombinasi faktor genetik (ketidaksesuaian ukuran gigi dan rahang) dan faktor lingkungan (kebiasaan buruk seperti thumb sucking, mouth breathing, karies dini yang menyebabkan kehilangan ruang).
Bagaimana klasifikasi maloklusi menurut Angle?
Klasifikasi Angle membagi maloklusi menjadi tiga kelas berdasarkan hubungan molar pertama: Kelas I (neutrocclusion/oklusi normal dengan gigi tidak teratur), Kelas II (distocclusion/mandibula retruded), dan Kelas III (mesiocclusion/mandibula protruded).
Kapan maloklusi perlu dirawat?
Maloklusi perlu dirawat ketika mengganggu fungsi pengunyahan, fonasi, atau pernafasan, menyebabkan trauma periodontal akibat oklusi, mengganggu estetika yang berdampak pada kualitas hidup pasien, atau merupakan faktor risiko untuk penyakit gigi dan mulut lainnya.
Apakah maloklusi bisa dicegah?
Tidak semua maloklusi dapat dicegah, tetapi maloklusi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat diminimalisir dengan menghentikan kebiasaan buruk sejak dini, menjaga kesehatan gigi sulung, dan melakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi dini masalah erupsi.
Berapa lama perawatan ortodontik untuk maloklusi?
Perawatan ortodontik aktif umumnya berlangsung 18-36 bulan tergantung pada keparahan kasus. Perawatan penahan (retention) diperlukan selama minimal 12 bulan setelah active treatment untuk mencegah relapse.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


