Kemenkes Peringatkan: Konsumsi Minuman Manis Berlebih Picu Gagal Ginjal di Usia Muda

Kemenkes Peringatkan: Konsumsi Minuman Manis Berlebih Picu Gagal Ginjal di Usia Muda

Mindy
Published on 3 Juni 2026

Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengungkapkan temuan yang mengkhawatirkan terkait meningkatnya angka penyakit ginjal kronis pada anak-anak dan remaja. Penyebab utamanya? Konsumsi minuman manis yang berlebihan dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, menyatakan bahwa minuman berpemanis telah menjadi sumber asupan gula terbesar bagi kelompok usia muda. Data menunjukkan bahwa konsumsi gula harian pada remaja Indonesia sudah melampaui batas aman yang direkomendasikan WHO, yaitu 25 gram per hari.

"Banyak orang tua dan anak yang tidak menyadari bahwa minuman kemasan yang mereka konsumsi setiap hari mengandung gula dalam jumlah sangat tinggi. Satu botol minuman bersoda atau teh kemasan bisa mengandung 30 hingga 50 gram gula," kata Maxi dalam konferensi pers pada Rabu (3/6/2026).

Hubungan Antara Kesehatan Mulut dan Kesehatan Ginjal

Bagi mahasiswa kedokteran gigi, temuan ini memiliki relevansi yang sangat kuat. Kesehatan mulut dan kesehatan sistemik memiliki hubungan timbal balik yang sudah lama diteliti. Kebiasaan konsumsi gula berlebih tidak hanya menyebabkan karies dan penyakit periodontal, tetapi juga memicu rantai inflamasi yang berakhir pada organ vital seperti ginjal.

Dr. drg. Ratu Mirah Afifah, seorang akademisi kedokteran gigi, menjelaskan bahwa inflamasi kronis di rongga mulut akibat karies yang tidak tertangani dapat memperburuk kondisi sistemik tubuh. "Bakteri patogen dari rongga mulut dapat masuk ke aliran darah dan memicu respons inflamasi sistemik. Ketika dikombinasikan dengan asupan gula tinggi dan obesitas, risiko penyakit ginjal meningkat signifikan," terangnya.

Data yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan data Riskesdas 2024, prevalensi penyakit ginjal kronis pada kelompok usia 15–24 tahun meningkat 12% dibandingkan lima tahun sebelumnya. Faktor risiko utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Konsumsi minuman berpemanis minimal 3 kali sehari (67% responden)
  • Obesitas sentral pada remaja (28% peningkatan)
  • Kurangnya aktivitas fisik (45% responden)
  • Riwayat keluarga dengan diabetes atau penyakit ginjal

Kemenkes juga mencatat bahwa biaya pengobatan hemodialisis untuk pasien ginjal kronis usia muda telah mencapai Rp 2,3 triliun pada tahun 2025, membebani sistem BPJS Kesehatan secara signifikan.

Peran Mahasiswa Kedokteran Gigi dalam Pencegahan

Sebagai calon profesional kesehatan, mahasiswa kedokteran gigi berada di posisi strategis untuk melakukan intervensi dini. Setiap kali pasien datang untuk perawatan gigi, terdapat kesempatan untuk melakukan skrining dan edukasi tentang pola konsumsi gula.

Prof. Dr. drg. Tri Erni Astuti, Dekan salah satu FKG terkemuka di Indonesia, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan kedokteran gigi modern. "Mahasiswa kami dilatih untuk tidak hanya melihat gigi dan mulut, tetapi juga memahami keseluruhan kondisi kesehatan pasien. Ketika kami menemukan pasien dengan karies multipel dan riwayat konsumsi minuman manis tinggi, kami wajib memberikan edukasi lintas disiplin," ujarnya.

Langkah Pencegahan yang Disarankan Kemenkes

Kemenkes RI merekomendasikan beberapa langkah praktis untuk mencegah penyakit ginjal akibat konsumsi gula berlebih:

1. Batasi konsumsi gula harian

Maksimal 25 gram per hari (setara 6 sendok teh). Baca label nutrisi sebelum mengonsumsi minuman kemasan.

2. Pilih air putih sebagai minuman utama

Minimal 8 gelas per hari. Air putih membantu fungsi filtrasi ginjal dan menjaga hidrasi tubuh.

3. Rutin periksa kesehatan

Termasuk pemeriksaan darah dan urine untuk mendeteksi tanda awal gangguan ginjal.

4. Jaga kesehatan mulut

Sikat gigi 2 kali sehari, flossing, dan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk mencegah karies dan penyakit periodontal.

5. Edukasi keluarga dan lingkungan

Mulai dari rumah dengan mengurangi ketersediaan minuman berpemanis dan menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat.

Tantangan di Lapangan

Meskipun edukasi gencar dilakukan, tantangan terbesar tetap pada perubahan perilaku. Industri minuman manis memiliki kekuatan pemasaran yang masif, terutama menargetkan generasi muda melalui iklan digital dan sponsor kegiatan olahraga.

Dr. Ahmad Yurianto dari Direktorat Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kemenkes menambahkan bahwa regulasi pelabelan dan pembatasan iklan minuman manis sedang dalam tahap pembahasan. "Kami menargetkan regulasi ini bisa berlaku pada 2027, dengan harapan konsumsi minuman berpemanis bisa turun 20% dalam tiga tahun," katanya.

Kesimpulan

Peringatan dari Kemenkes ini menjadi momentum penting bagi seluruh tenaga kesehatan, termasuk dokter gigi, untuk mengambil peran lebih aktif dalam pencegahan penyakit tidak menular. Mahasiswa kedokteran gigi yang saat ini sedang menempuh pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi agen perubahan dalam edukasi kesehatan masyarakat.

Kesehatan mulut bukan sekadar urusan senyum indah, tetapi cerminan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dengan memahami hubungan antara konsumsi gula, kesehatan gigi, dan risiko penyakit ginjal, mahasiswa kedokteran gigi dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Artikel ini disusun berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, Riskesdas 2024, dan wawancara dengan narasumber terkait.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds