Kandidiasis Oral: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penatalaksanaan untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi
Kandidiasis oral adalah infeksi jamur pada rongga mulut yang disebabkan oleh Candida spp., terutama Candida albicans. Kondisi ini umum ditemukan pada pasien yang menggunakan antibiotik spektrum luas, penderita HIV/AIDS, diabetes mellitus, wearers gigi tiruan, serta neonatus. Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman mendalam tentang kandidiasis oral sangat penting karena kondisi ini sering menjadi soal dalam UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG, serta merupakan kompetensi klinis yang wajib dikuasai.
Definisi Kandidiasis Oral
Kandidiasis oral atau dikenal juga sebagai oral thrush atau stomatitis Candida adalah infeksi oportunistik yang terjadi ketika keseimbangan flora normal rongga mulut terganggu, sehingga jamur Candida berkembang secara berlebihan. Candida albicans adalah spesies yang paling sering diisolasi (sekitar 70–80% kasus), namun spesies lain seperti C. glabrata, C. tropicalis, C. krusei, dan C. dubliniensis juga dapat menyebabkan infeksi.
Jamur Candida merupakan flora normal rongga mulut yang ditemukan pada sekitar 30–60% individu sehat asimptomatik. Infeksi terjadi ketika mekanisme pertahanan tubuh host menurun atau ketika faktor lokal rongga mulut mengalami perubahan yang mendukung pertumbuhan jamur berlebihan.
Epidemiologi
Kandidiasis oral dapat menyerang semua kelompok usia, dari neonatus hingga lansia. Beberapa data epidemiologi penting:
- Prevalensi pada populasi umum: sekitar 1–4%.
- Pada bayi sehat: 2–5% (seringkali kondisi self-limiting).
- Pada lansia dengan gigi tiruan: 15–60%.
- Pada pasien HIV/AIDS: 20–40% (bisa mencapai 90% pada stadium lanjut).
- Pada pengguna inhaler kortikosteroid untuk asma: 4–13%.
Proporsi infeksi meningkat secara signifikan pada populasi dengan immunocompromised, menjelaskan mengapa kandidiasis oral sering menjadi marker klinis penting untuk deteksi dini kondisi sistemik yang mendasari.
Etiologi dan Faktor Risiko
Faktor Host yang Meningkatkan Risiko
Beberapa kondisi systemik dan lokal yang meningkatkan kerentanan terhadap kandidiasis oral:
- Imunosupresi: Infeksi HIV/AIDS, leukemia, kemoterapi, radioterapi области kepala dan leher.
- Diabetes mellitus: Hiperglikemia mengubah lingkungan rongga mulut dan mengganggu fungsi neutrofil.
- Xerostomia: Penurunan aliran saliva mengurangi efek cleansing dan antimikroba saliva.
- Penggunaan antibiotik spektrum luas: Mengganggu flora bakteri komensal yang kompetitif terhadap Candida.
- Penggunaan kortikosteroid: Baik sistemik maupun topikal (inhaler).
- Neonatus dan lansia: Sistem imun yang belum matur atau sudah menurun.
Faktor Lokal
- Penggunaan gigi tiruan (denture stomatitis): Permukaan gigi tiruan akrilik menyediakan biofilm yang ideal untuk kolonisasi Candida.
- Merokok: Meningkatkan kolonisasi Candida melalui efek termal dan kimiawi pada mukosa.
- Trauma mukosa kronis: Prostodonsia yang tidak fit atau tajam.
Kombinasi antara faktor host dan lokal menciptakan lingkungan yang kondusif untuk overgrowth Candida, sehingga pemahaman tentang faktor-faktor risiko ini penting untuk diagnosis dan perencanaan pencegahan.
Patogenesis
Candida albicans memiliki beberapa virulensi utama yang memfasilitasi kolonisasi dan invade jaringan host:
- Adhesin: Protein permukaan (agglutinin-like sequence/ALS, hyphal wall protein/HWP1) yang memfasilitasi perlekatan pada epitel mukosa dan permukaan gigi tiruan.
- Morphological transition: Pergantian dari bentuk yeast (blastospora) ke bentuk hyphae yang lebih invasif. Hyphae dapat menembus lapisan epitel melalui aktivitas enzim proteolitik (aspartyl proteinases/SAP).
- Biofilm formation: Candida membentuk biofilm pada permukaan gigi tiruan dan mukosa yang sangat resisten terhadap antifungal dan respons imun host.
- Faktor evade imun: manoprotein dinding sel menghambat fagositosis; protease mengganggu protein imun.
Proses infeksi dimulai dengan kolonisasi awal, diikuti adhesi pada epitel, germinasi hyphae, invade jaringan melalui mekanisme enzimatis, dan respons inflamasi host. Pada kondisi immunocompromised, proses ini dapat menjadi sistemik.
Klasifikasi dan Manifestasi Klinis
Berdasarkan Gambaran Klinis
1. Pseudomembranous Candidiasis (Oral Thrush)
Paling umum. Ditandai dengan plak putih keju yang dapat dihapus (wipeable) pada mukosa bukal, lidah, palate, dan orofaring. Plak terdiri dari debris seluler, fibrin, dan koloni Candida. Jika dihapus, dasar merah (eritematous) terlihat. Pada bayi, sering asimptomatik; pada dewasa, bisa menyebabkan rasa terbakar dan disgeusia.
2. Erythematous (Atrophic) Candidiasis
Bercak merah atrofi yang nyeri, sering pada palate dorsum lidah. Tersedia dalam bentuk akut (setelah penggunaan antibiotik) dan kronis (pada pengguna gigi tiruan - sering disebut denture stomatitis tipe II). Pasien dengan HIV sering mengeluhkan nyeri paladar.
3. Hyperplastic Candidiasis (Candidal Leukoplakia)
Plak putih yang TIDAK dapat dihapus dengan dikerok, sering pada sudut mulut atau lidah. Kondisi ini memerlukan biopsy karena termasuk lesi preneoplastik dan memiliki potensi transformasi maligna. Sulit dibedakan dari leukoplakia sejati.
4. Angular Cheilitis (Perlukaan Sudut Mulut)
Radang dan fisur pada satu atau kedua sudut mulut. Etiologi multifaktorial: infeksi Candida (tersering), defisiensi vitamin B12, defisiensi zat besi, atau infeksi bakteri (Staphylococcus aureus). Sering dijumpai pada lansia dengan lipatan marionette yang dalam.
5. Chronic Mucocutaneous Candidiasis
Kondisi langka dengan kandidiasis rekuren pada mukosa oral, kulit, kuku, dan genital. Onset pada masa kecil, sering terkait dengan defisiensi sel T atau sindrom autoimun polyendocrinopathy-candidiasis-ectodermal dystrophy (APECED).
Klasifikasi berdasarkan Durasi dan Bentuk
Berdasarkan klasifikasi Holmstrup & Bumm (1990), kandidiasis oral dikelompokkan menjadi:
- Primary oral candidiasis: Terbatas pada rongga mulut dan orofaring (pseudomembranous, erythematous, hyperplastic, angular cheilitis).
- Secondary oral candidiasis: Bagian dari penyakit mucocutaneous kronis yang juga mengenai kulit dan organ lain.
Diagnosis
Anamnesis
Info penting yang perlu ditanyakan:
- Durasi dan progresi lesi.
- Gejala subjektif: nyeri, rasa terbakar, disgeusia (perubahan rasa), disfagia (kesulitan menelan).
- Faktor predisposisi: penggunaan antibiotik, inhaler kortikosteroid, penggunaan gigi tiruan, gejala HIV (weight loss, night sweats).
- Kondisi sistemik: diabetes, penggunaan steroid sistemik, immunocompromised.
- Riwayat merokok.
Pemeriksaan Klinis
Evaluasi klinis meliputi:
- Inspeksi: Identifikasi lokasi, warna, ukuran, bentuk lesi, dan apakah plak dapat dihapus atau tidak.
- Pewarnaan: Apusan usap (swab) dari lesi untuk pewarnaan Gram atau KOH 10% - terlihat yeast bipolar dengan budding.
- Pemeriksaan gigi tiruan: Tanda-tanda stomatitis di bawah gigi tiruan (denture stomatitis).
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan mikrobiologi: Kultur swabs pada agar Sabouraud dextrose - gold standard namun butuh waktu 48–72 jam.
- Gram stain / KOH prep: Cepat, murah, dapat dilakukan di klinik.
- PAP smear: Untuk deteksi bentuk yeast dan hyphae.
- Biopsy: Diindikasikan pada candidal leukoplakia (hyperplastic) untuk menyingkirkan displasia atau keganasan. Histopatologi menunjukkan hyperplastic epithelium dengan parakeratosis, akantosis, dan infiltrat neutrophil submukosa; fungal hyphae dapat divvisualisasi dengan PAS stain.
- Pemeriksaan HIV: Pada kasus rekuren atau atipikal.
Diagnosis Banding
Beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan:
- Leukoplakia: Plak putih yang tidak dapat dihapus, bukan dari etiologi fungal. Biopsy untuk konfirmasi.
- Lichen planus oral: Lesi retikuler putih pada mukosa bukal bilateral, tidak dapat dihapus. Biasanya dengan striasi Wickham.
- Morsicatio buccarum: Habits mengigit mukosa pipi, lesi ireguler, bilateral.
- Lupus erythematosus oral: Plak putih dengan border eritematosa.
- Leukoedema: Opasitas bilateral mukosa bukal yang dapat menghilang dengan peregangan mukosa.
- Geographic tongue (glossitis migratorik): Area deskuamasi dengan batas eritematosa, berpindah-pindah.
Penatalaksanaan
Terapi Farmakologis
Antijamur Topikal
- Nystatin suspension oral: 4–6 mL, kumur dan telan, 4x/hari selama 7–14 hari. Efek samping: nausea, diarrhea.
- Nystatin lozenges: 1–2 tablet, dissolve perlahan, 4–5x/hari.
- Miconazole oral gel: 2.5 mL (124 mg), 4x/hari. Perhatian: interaksi dengan warfarin dan statin (CYP3A4 inhibitor).
- Amphotericin B suspension: 1 mL, 4x/hari.
Antijamur Sistemik
- Fluconazole: First-line untuk kasus sedang-berat atau yang tidak respons terhadap terapi topikal. Dosis: 100–200 mg/hari selama 7–14 hari. Untuk HIV-related: 200 mg/hari, 14 hari.
- Itraconazole: 100 mg/hari selama 14 hari. Less hepatotoxic dibanding fluconazole.
- Voriconazole atau Caspofungin: Reserved untuk kasus resisten atau invasive candidiasis.
Manajemen Non-Farmakologis
- Higiene gigi tiruan: Rendam gigi tiruan dalam larutan chlorhexidine 0.2% overnight, atau larutan antijamur (nystatin/miconazole) selama 15–30 menit.
- Edukasi pasien: Cuci gigi tiruan setiap hari, jangan tidur dengan gigi tiruan, rutin kontrol prostodontik.
- Koreksi faktor predisposisi: Atur ulang gigi tiruan yang tidak fit, kurangi merokok, kontrol diabetes.
- Saliva substitute: Untuk pasien dengan xerostomia.
- Pembersihan lesi: Pada pseudomembranous candidiasis, plak dapat dibersihkan lembut dengan gauze sebelum aplikasi antijamur untuk meningkatkan efikasi obat.
Penanganan Khusus
- Pasien HIV/AIDS: Terapi antijamur sistemik jangka panjang mungkin diperlukan (secondary prophylaxis). Rujuk ke spesialis penyakit dalam untuk manajemen ARV.
- Pasien dengan Gigi Tiruan: Terapi topikal + desinfeksi gigi tiruan adalah pendekatan utama. Stomatitis yang tidak respons memerlukan evaluasi prostodontik.
- Angular cheilitis: Kombinasi antifungal topikal (miconazole cream) + steroid topikal rendah (hydrocortisone 1%) + vitamin B complex supplement.
Pencegahan
Strategi pencegahan kandidiasis oral meliputi:
- Edukasi pasien: Menjaga kebersihan rongga mulut, membersihkan gigi tiruan secara rutin.
- Hindari faktor risiko: Kurangi merokok, kontrol penggunaan inhaler kortikosteroid dengan mouth rinse setelah digunakan.
- Kelola kondisi sistemik: Kontrol glikemik pada diabetes, profilaksis antijamur pada pasien immunocompromised yang akan menjalani prosedur invasif.
- Kontrol rutin: Terutama pada pasien dengan faktor risiko tinggi (HIV, gigi tiruan, kemoterapi).
Relevansi dengan UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG
Kandidiasis oral merupakan topik yang sering muncul dalam UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG. Mahasiswa perlu memahami:
- Klasifikasi: Mampu mengklasifikasikan kandidiasis oral berdasarkan gambaran klinis.
- Diagnosis: Membedakan kandidiasis dari lesi putih lainnya (leukoplakia, lichen planus, morsicatio).
- Faktor risiko: Mengenali kondisi yang mendasari (HIV, diabetes, xerostomia, penggunaan steroid).
- Penatalaksanaan: Pilihan terapi topikal vs sistemik berdasarkan severitas.
- Angular cheilitis: Etiologi multifaktorial dan tatalaksana yang tepat.
Pada ujian keterampilan (OSCE), mahasiswa mungkin diminta untuk melakukan pewarnaan KOH, menginterpretasi hasil swab, atau memberikan edukasi kepada pasien tentang kebersihan gigi tiruan.
Kesimpulan
Kandidiasis oral adalah infeksi jamur yang umum namun memiliki signifikansi klinis dan akademik yang tinggi bagi mahasiswa kedokteran gigi. Pemahaman komprehensif tentang etiologi, patogenesis, klasifikasi, diagnosis, dan penatalaksanaan sangat penting tidak hanya untuk praktik klinis sehari-hari tetapi juga untuk persiapan ujian UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG. Pendekatan sistematis dalam diagnosis — dimulai dari anamnesis yang teliti, pemeriksaan klinis yang cermat, hingga pemeriksaan penunjang yang tepat — akan memastikan penatalaksanaan yang optimal bagi pasien dengan kandidiasis oral.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Kandidiasis Oral
Apakah kandidiasis oral bisa menular?
Ya, kandidiasis oral bisa menular melalui kontak langsung (ciuman, penggunaan alat makan bersama) atau dari ibu ke bayi saat persalinan. Namun, pada individu dengan sistem imun yang sehat, infeksi klinis jarang terjadi karena mekanisme pertahanan tubuh yang adekuat.
Apa perbedaan antara kandidiasis oral dan leukoplakia?
Kandidiasis oral disebabkan oleh infeksi jamur Candida dan plak putih umumnya dapat dihapus dengan dikerok (kecuali bentuk hyperplastic). Leukoplakia adalah lesi putih yang tidak dapat dihapus dan tidak memiliki etiologi infeksi. Diagnosis pasti leukoplakia memerlukan biopsy untuk menyingkirkan displasia.
Apakah kandidiasis oral bisa disembuhkan tanpa obat?
Pada individu sehat dengan kasus ringan, kandidiasis oral pseudomembranous bisa self-limiting dalam 2–3 minggu. Namun, penggunaan antijamur topikal mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi. Pada immunocompromised, terapi farmakologis wajib.
Bagaimana cara mencegah kandidiasis oral akibat penggunaan inhaler kortikosteroid?
Berkumur dengan air putih setelah setiap penggunaan inhaler kortikosteroid untuk menghilangkan residu obat yang mengendap di rongga mulut. Penggunaan spacer (alat bantu) juga membantu mengurangi deposisi orofaringeal obat.
Berapa lama waktu penyembuhan kandidiasis oral?
Dengan terapi antijamur yang adekuat, kandidiasis oral biasanya membaik dalam 7–14 hari. Pada kasus berat atau immunocompromised, waktu penyembuhan bisa lebih lama dan mungkin memerlukan terapi sistemik.
Apakah pasien dengan gigi tiruan perlu ke dokter gigi jika mengalami kandidiasis?
Sangat dianjurkan. Pasien dengan denture stomatitis memerlukan evaluasi prostodontik untuk memastikan gigi tiruan fit dengan baik. Selain terapi antijamur, desinfeksi gigi tiruan dan koreksi prostodontik adalah bagian penting dari penatalaksanaan.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


