Indonesia menghadapi beban tuberkulosis (TBC) yang masih sangat tinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, satu juta kasus TBC tercatat setiap tahun di Tanah Air, dan satu orang meninggal akibat TBC tiap empat menit. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 300 ribu kasus belum terdeteksi, artinya mereka berpotensi menularkan penyakit tanpa disadari.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti bahwa rendahnya deteksi dini menjadi salah satu faktor utama penyebaran TBC di Indonesia. Banyak pasien yang baru terdiagnosis setelah kondisi penyakitnya sudah lanjut, sehingga peluang kesembuhan menurun dan risiko penularan ke orang sekitar meningkat drastis.
Mengapa Dokter Gigi Harus Waspada?
Dokter gigi memiliki peran strategis dalam deteksi dini TBC. Beberapa alasan utama:
- Paparan Langsung pada Saluran Pernapasan — Prosedur kedokteran gigi melibatkan prosedur yang menghasilkan aerosol, seperti scaling, pengeboran, dan perawatan saluran akar. Partikel aerosol ini dapat membawa Mycobacterium tuberculosis.
- Lesi Oral sebagai Tanda Awal — TBC dapat menunjukkan gejala awal di rongga mulut, seperti ulkus yang nyeri, pembengkakan pada gusi, dan lesi putih atau kemerahan yang tidak sembuh dalam waktu lama. Lesi ini sering terabaikan karena gejalanya mirip dengan kondisi mulut lainnya.
- Anamnesis sebagai Gerbang Deteksi — Kunjungan rutin ke dokter gigi menjadi kesempatan untuk melakukan anamnesis menyeluruh, termasuk menanyakan gejala sistemik seperti batuk berkepanjangan, demam malam hari, dan penurunan berat badan.
Gejala Oral yang Perlu Diwaspadai
Manifestasi TBC di rongga mulut relatif jarang, tetapi dokter gigi harus tetap mewaspadai tanda-tanda berikut:
- Ulkus oral yang kronis, biasanya ditemukan di langit-langit, lidah, atau gusi
- Pembengkakan (granuloma) yang menyerupai abses gigi tetapi tidak merespons antibiotik konvensional
- Nyeri spontan tanpa penyebab jelas
- Pembesaran kelenjar getah bening submandibula dan servikal
Jika menemukan gejala-gejala tersebut, dokter gigi harus merujuk pasien ke dokter spesialis paru untuk evaluasi lebih lanjut.
Risiko bagi Dokter Gigi dan Dokter Muda
Dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi yang sedang melakukan rotasi klinik di rumah sakit atau fasilitas kesehatan menghadapi risiko lebih tinggi. Aerosol dari prosedur gigi dapat menjadi medium penyebaran TBC jika alat ventilasi dan proteksi diri tidak digunakan secara optimal.
Protokol keamanan yang ketat wajib diterapkan, antara lain:
- Penggunaan masker N95 saat prosedur menghasilkan aerosol
- Ergonomi kerja yang baik dan ventilasi ruang perawatan yang memadai
- Desinfeksi alat dengan benar setelah setiap prosedur
- Pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk tes Mantoux atau rontgen dada
Upaya Pemerintah dan Target Eliminasi
Kementerian Kesehatan tengah menggenjot program deteksi dini TBC melalui berbagai pendekatan, termasuk pemeriksaan kontak erat dan active case finding di fasilitas kesehatan. Program ini diharapkan dapat menjaring lebih banyak kasus yang selama ini tidak terdiagnosis.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, memahami TBC bukan sekadar bagian dari kurikulum — ini adalah kompetensi klinis yang akan menentukan kualitas layanan kesehatan mulut ke depan. Kemampuan mendeteksi tanda awal TBC di rongga mulut dapat menyelamatkan nyawa pasien dan memutus rantai penularan di masyarakat.
Mahasiswa yang mempersiapkan diri untuk ujian UKMPPD atau UKOMNAS PPDG perlu memberi perhatian khusus pada topik ini, karena TBC merupakan bagian penting dari kesehatan masyarakat dan sering muncul dalam soal ujian.
Kesimpulan
TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan terapi kombinasi yang tepat. Deteksi dini dan pengobatan yang adekuat adalah kunci untuk mencapai target eliminasi TBC di Indonesia pada 2030. Dokter gigi, sebagai bagian dari tenaga kesehatan, memiliki peran yang tidak dapat diabaikan dalam pencapaian target ini.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


